Ranggamarley’s Blog

sejarah banjar & Urang Banjar Serumpun dengan Brunei..

kuin tempo dolo

Image Hosting by Picoodle.com

KUIN TEMPOE DOELOE - Bagaimana asri dan sederhananya Muara Kuin, sebuah anak Sungai Barito di Banjarmasin. Di sana-sini, berseleweran jukung (sampan) yang menjadi alat transportasi ketika itu. Foto ini koleksi Meseum Lambung Mangkurat, Banjarbaru yang diambil fotografer berkebangsaan Belanda pada tahun 30-an. Kini, apakah pemandangan ini sudah bisa dijumpai? Tentu saja tidak, arus modernisasi telah menyapa warga Sungai Kuin. Kini, kawasan ini menjadi salah satu pusat perbelanjaan bahan bangunan, karena wajar, berdekatan dengan kawasan Pasar Terapung. (didi gunawan)

sejarah banjar

Urang Banjar Serumpun dengan Brunei?
Tiga pakar “Urang Banjar” berkolaburasi dalam Sarasehan Sejarah Kerajaan Banjar di Aula Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kalsel, beberapa waktu lalu. Sedikit demi sedikit, tiga pakar itu yakni Drs H A Gazali Usman, Prof DR Alfani Daud dari IAIN Antasari, serta sejarawan H Gusti Shuria Rum secara bergantian mengupas apa, siapa dan bagaimana Urang Banjar serta Kerajaan Banjar itu.
AULA Diknas Kalsel yang terletak di bahu kiri Jalan S Parman itu kemarin cukup ramai. Maklum, sarasehan yang bertepatan juga untuk peringatan 150 tahun wafatnya Sultan Adam itu banyak dihadiri tokoh-tokoh Urang Banjar, pejabat Pemprov Kalsel hingga kalangan akademisi, khususnya mahasiswa FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Program Studi Sejarah, beberapa waktu lalu.
Sarasehan hasil kerjasama Balitbangda Prov Kalsel dan Yayasah Sultan Adam memang menyikapi agar sejarah Kerajaan Banjar dan Urang Banjar itu bisa dihidupkan kembali. Bahkan, kekhawatiran Ketua Yayasan Sultan Adam, Ir Gusti H Khairul Saleh MM cukup beralasan, sebab minimnya bukti-bukti sejarah Kerajaan Banjar akan menjadi kendala bagi masyarakat Banjarmasin sendiri. “Yayasan kami sempat dihubungi Mr Donald Ticke (Ketua Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan Indonesia) yang berpusat di Nederland serta kawan di Yayasan Pusaka meminta agar menghidupkan kembali kesultanan Banjar. Kami mengganggap hal ini bukan perkara yang mudah,” tukas Khairul dalam kata sambutannya.
Nah, komentar Khairul ini juga sejalan dengan pemikiran sejarawan Banjar, Drs H A Gazali Usman ketika memaparkan makalahnya pada sisi pertama. Ia juga mengatakan apa yang disajikan dalam makalah setebal 17 halaman itu berdasarkan dokumen yang diperolehnya lewat penelitiannya. Sebab, kata Gazali, situs-situs sejarah Kesultanan Banjar itu memang cukup langka dan sulit dicari, karena peninggalannya kebanyakan sudah hilang, akibat serangan kolonial Belanda atau karena proses alamiah. Dipandu moderator sarasehan, Gusti Suriyani yang memberikan kesempatan pertama selama 30 menit, Gazali Usman juga mengungkapkan siapa Urang Banjar itu?.
Menurut mantan dosen FKIP Unlam Program Studi Sejarah ini mengutip Hikayat Banjar mengatakan kalau kata Banjar itu menunjukkan desa tertentu. Sekarang desa terletak di Cerucuk. Saat itu, juga ada desa Serapat, Balandean, Tamban, Balitung dan Kuin. “Desa Banjar itu disebut pula Banjarmasih, karena tetuha bernama Patih Masih,” kata Gazali dengan suara serak-serak basah.
Banjarmasih itu, kata Gazali lagi, berarti suatu desa atau tempat orang Melayu. Sebab, dalam bahasa Dayak Ngaju, orang Melayu disebut dengan Oloh Masih. Karena itu, Patih Masih disebut Dayak Ngaju dengan sebutan Patih Oloh Masih yang berarti patihnya orang Melayu. Gazali melanjutkan ceritanya, ketika Raden Samudera menjadikan Bandar Masih sebagai ibukota Kerajaan Banjar, maka kata Bandar itu berarti kota. “Makanya, kalau pelabuhan yang ada di Banjarmasin ini menggunakan kalimat Bandarmasih ini saya nilai sangat tepat, sesuai dengan sejarah,” komentarnya lagi.
Keyakinan Gazali bahwa Urang Banjar ini merupakan bangsa dari rumpun Melayu dikaitkan dengan kesamaan dalam kosa kata dengan bahasa Melayu yang mendiami pulau Sumatera itu. Selain itu, Gazali berkeyakinan kalau bahasa Banjar juga nyaris sama dengan bahasa Melayu yang digunakan oleh Melayu di Sarawak (Malaysia) dan Brunei. Ia menyebutkan kosa kata yang dianggapnya mulai punah seperti “sudu” atau “sasudu” yang berarti sendok. Selain itu, kata longkong (lubang), cucul (bakar), indah (tidak), buting (biji) serta dangani (temani), serta bandar (kota) merupakan kosa kata yang digunakan oleh Orang Brunei dalam pergaulan sehari-hari. “Kalau melihat kosa kata seperti itu, berarti Urang Banjar ini memang orang Melayu.Bahkan, Orang Brunei yang tak kedal menyebut huruf “R” serta “U” nyaris sama dengan aksen Urang Banjar,” jelasnya, menguapkan argumennya.
Untuk memperkuat persepsinya, Gazali yang juga mengutip hasil penelitian JJ Ras (sejarawan Belanda), M Idwar Saleh (Sejarawan Banjarmasin) serta Arsip Nasional RI menjelaskan kalau kata “Banjar” itu banyak ditemui dalam Hikayat Banjar. Bahkan, dalam Daghregister Batavia abad ke-17, Belanda sering menyebut kata Banjarmasih atau Banjarmassingh untuk sebutan Banjarmasin.
“Nah, perubahan Banjarmasih ke Banjarmasin, disebabkan adanya perjanjian Kesultan Banjar dengan Belanda sekitar abad 18,” kata Gazali. Akhirnya, kata Gazali, sebutan untuk negeri Banjar menjadi Negeri Banjarmasin atau Raja Banjar disebutkan sebagai Raja Banjarmasin serta Tanah Banjarmasin.

(didi gunawan)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: